CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Tuesday, January 08, 2008

Serenade Kesedihan


Ada cukup banyak jalan berbatu yang harus dilewati untuk tiba di ujung bukit sana. Meski pagi masih terlihat dan matahari pun bersinar cukup terang, aku pun meragu, akankah aku akan tiba di ujung bukit itu?

Di bawah lautan tatapan mata kosong para pengusung keranda aku berusaha memahami setiap detik dari perubahan itu. Air laut membiru, camar melintas menuju ke tepian dan suara-suara pegunungan memanggilku dari jauh dan memberikan isyarat.

Sayangnya, aku tetap di sini serta menatap kosong ke arah harapan yang aku dambakan itu. Mestinya aku tidak membuka hati untuk harapan itu karena aku telah tahu ada banyak kesakitan yang akan datang padaku kelak. Tetapi, aku membiarkan harapan itu datang, memelukku, dan membisikkan kata-kata buluh perindu.

Sepiku hanyalah sebuah serenade yang tak kunjung berakhir. Cinta adalah sebuah kesakitan tanpa akhir yang selalu datang berkunjung tak kenal waktu. Wahai dikau harapan, tidak kau pahami mengapa cinta akhirnya selalu meninggalkanmu? Engkau tidak hanya menyakiti cinta itu saja namun kau menaburinya dengan dendam serta kebencian yang tak terperikan.

Aku tidak memulai dan tidak mengakhir hariku dengan segenggam senja. Mataku tetap melihat ke arah keranda jenazah yang dibawa para pengusungnya di taman keabadian dan berharap aku tidak lagi menggantungkan harapku terhadap sesuatu yang indah sekaligus sangat menyakitkan ini. (*)

3 komentar:

Anonymous said...

sedih kenapa nih non ?

Anonymous said...

wahh gambarnya keren
dan kata-katanya bagus
dalem..
lagi sedih skali kah?
btw, salam kenal ya :)

Anonymous said...

Thank you atas komen-nya, BTW, blog Anda keren juga...^_^